#Label1 .widget-content{ height:250px; width:auto; overflow:auto; }

Senin, 15 Oktober 2012

balon-balon :) #1

Awal bertemu dengannya, suka sih ... tapi waktu itu aku tidak sendiri. Aku rasa suka itu wajar, interested. Semakin lama semakin terasa janggal. Tapi aku tak ingin melukai hati kekasih ku saat itu.

Di mulai dari kisah ku bersama kekasihku itu (sebut saja Bram), menerima seseorang dengan modus balas dendam itu ternyata bukan hal yang baik. Jangan deh coba-coba. Tapi itulah yang aku lakukan, nasi sudah menjadi bubur.

Dulu, aku merasa dimanfaatkan olehnya. Ketika ia masih bersama kekasihnya dulu (sebelum aku, sebut saja mawar), aku seperti pelabuhan sementara, tempat pelarian. Ketika ada masalah dengan mawar, ia mencariku. Ketika masa-masa break dengan mawar, ia menghubungiku. Aku yang salah, terlalu care sehingga terbawa  perasaan. Aku menyukainya, aku melihat sosoknya yang lemah, dan seakan-akan tertindas oleh mawar. Aku merasa dapat membantunya mengatasi masalahnya, membantunya berdiri ketika terjatuh. Itu kesalahan terbesarku.

Selang waktu berlalu, ternyata dia tetap tak melihat ku. Melihat caraku mengasihinya, caraku perduli padanya. Bram kembali ke mawar dan saat itu aku sakit. sakit, hampir tak mampu menerima keadaan. Padahal aku sangat tahu bahwa Bram tak'kan pernah melihat ke arahku. Aku hanya bisa berdoa.
Setahun berlalu, aku pindah keluar kota karena harus meneruskan studyku. tiba-tiba Bram muncul, menghubungiku dan kami mulai berkomunikasi dengan baik. PDKT (lagi). Tuhan menjawab doaku. Aku bahagia, karna saat itu aku memang 'butuh' seseorang.

Tapi ternyata tidak, belum atau bahkan bukan waktu yang sudah Tuhan rencanakan. Ia menghilang, begitu saja. Tak pernah menghubungiku lagi. Aku berusaha tak memikirkannya. Berusaha.
Enam bulan kemudian ia kembali masuk ke kehidupanku, aku senang. Tuhan memberikan aku kesempatan untuk dapat memberi tuaian atas apa yang di taburnya dalam hidupku. Pain.

Sekitar dua bulan menjalani proses penjajakan. aku menerimanya. Kesempatan.
Menjalani hubungan tanpa perasaan, lama kelamaan aku kasihan padanya. Aku mencoba belajar menyayanginya seperti dulu, nihil. Aku tak dapat melakukannya.
Aku berusaha mempertahankan hubungan kami, melihat kegigihannya, usahanya meyakinkan aku. Aku tak sanggup. Sampai pada permasalahan dimana inilah kesempatanku untuk mengakhirinya. Aku tak sanggup melihatnya terluka, aku tang sanggup membiarkannya merasakan apa yang ku rasakan. Aku cukupkan.